7 Pemanis Sehat Pengganti Gula, Ada Gula Aren di Dalamnya
Arenga Indonesia – MASIH banyak pemanis buatan atau sintetis yang beredar dan digunakan sebagai pemanis dalam pelbagai produk makanan dan minuman termasuk yang digunakan dalam beberapa produk minuman berenergi (Kompas, 1/2/02). Ini merupakan contoh kasus penggunaan bahan kimia yang belum diawasi secara penuh. Baca sampai ke bawah untuk mengetahui beberapa alternatif pemanis sehat pengganti gula atau pengganti gula pasir.
Padahal, pihak produsen dapat menggunakan atau pihak pengawas dalam hal ini Badan Pengawasan Obat dan Makanan (POM) dan Departemen Kesehatan (Depkes) dapat merekomendasikan jenis pemanis lain yang lebih aman. Beberapa pemanis tersebut adalah senyawa-senyawa turunan sukrosa (gula tebu), jenis gula reduksi poliol atau gula alkohol dan gula dari pati-patian (starch sweetener).
Guna dan Jenis Pemanis
Pemanis merupakan senyawa kimia yang sering ditambahkan dan digunakan untuk keperluan produk olahan pangan, industri serta minuman dan makanan kesehatan. Menurut peraturan Menteri Kesehatan (Menkes) RI Nomor 235, pemanis termasuk ke dalam bahan tambahan kimia, selain zat lain seperti antioksidan, pemutih, pengawet, pewarna, dan lain-lain. Pemanis alternatif umum digunakan sebagai pengganti gula jenis sukrosa, glukosa atau fruktosa.
- Baca di sini tentang : Gula Aren Asli
Berbagai industri sering menggunakan ketiga jenis gula tersebut sebagai pemanis utama. Pemanis memiliki fungsi untuk meningkatkan cita rasa dan aroma, memperbaiki sifat fisik dan kimia produk, mengawetkan makanan, sekaligus menyumbang kalori bagi tubuh.
Berdasarkan proses produksinya, dunia industri mengenal pemanis sintetis dan natural. Sementara itu, berdasarkan fungsinya, para ahli mengategorikan pemanis ke dalam dua kelompok, yakni nutritif dan non-nutritif. Proses kimiawi menghasilkan pemanis sintetis. Pemanis jenis ini mencakup taumatin, alimat, siklamat, aspartam, dan sakarin.
Baca juga :
Tentang Pemanis Natural
Pemanis natural dihasilkan dari proses ekstraksi atau isolasi dari tanaman dan buah atau melalui enzimatis, contohnya sukrosa, glukosa, fruktosa, sorbitol, mantitol, dan isomalt.
Pemanis nutritif adalah pemanis yang dapat menghasilkan kalori atau energi sebesar 4 kalori/gram. Sedangkan pemanis non-nutritif adalah pemanis yang digunakan untuk meningkatkan kenikmatan cita rasa produk-produk tertentu, tetapi hanya menghasilkan sedikit energi atau sama sekali tidak ada. Pemanis jenis ini banyak membantu dalam manajemen mengatasi kelebihan berat badan, kontrol glukosa darah, dan kesehatan gigi.
- Baca juga : Manfaat Palm Sugar
Seiring pesatnya perkembangan teknologi produksi bahan kimia serta pengolahan pangan, farmasi, dan kesehatan, industri dan masyarakat mulai banyak menggunakan pemanis alternatif natural. Tren back to nature serta kesadaran konsumen untuk memilih produk yang aman dan bergizi turut menunjang perubahan ini.
Selain itu, berbagai hasil penelitian yang mengungkap sifat karsinogenik sebagai efek samping pemanis sintetis juga semakin memacu masyarakat untuk beralih mengonsumsi pemanis natural.
Para produsen dan konsumen menggunakan bahan pemanis alternatif ini untuk mencapai beberapa tujuan, antara lain mengembangkan variasi makanan dan minuman berkalori terkontrol, mendukung program diet dan pemeliharaan berat badan, mencegah kerusakan gigi, serta menggantikan peran pemanis utama.
Lebih jauh lagi, para penderita diabetes atau individu dengan kondisi kadar gula darah tinggi sangat membutuhkan pemanis alternatif berkalori rendah sebagai pengganti gula reduksi lainnya.
- Baca juga tentang : Gula aren cair
Tren saat ini menunjukkan adanya penggunaan kombinasi dua jenis pemanis untuk produk tertentu. Kombinasi ternyata menyebabkan sinergi pada tingkat kemanisan, sehingga menguntungkan karena akan mengurangi pemakaian jumlah pemanis dan meningkatkan cita rasa produk. Pemilihan penggunaan bahan pemanis alternatif yang baik biasanya didasarkan pada sifat-sifatnya yang menyerupai sukrosa. Yaitu tingkat kemanisan mendekati sukrosa, tidak berwarna, tidak berbau, mempunyai cita rasa yang menyenangkan, aman dikonsumsi, dan mudah larut.
Beberapa Bahan Pemanis Sehat Alternatif Pengganti Gula

Proses fermentasi, pirolisis, reduksi poliol atau gula alkohol, serta pengolahan pati-patian seperti high fructose syrup (HFS) menghasilkan turunan (derivat) sukrosa dan beberapa senyawa poliol jenis gula. Berbagai hasil olahan ini menawarkan potensi besar sebagai bahan pemanis alternatif untuk menggantikan pemanis sintetis.
Selain memberikan tingkat kemanisan yang cukup tinggi, pemanis-pemanis tersebut juga menjamin keamanan bagi para konsumen yang mengonsumsinya.
Berikut Daftar 7 Jenis Bahan Pemanis Sehat Pengganti Gula
1. Xylitol Pemanis Sehat Pengganti Gula Pasir
Salah satu pemanis alternatif pengganti sukrosa yang potensial adalah xylitol. Xylitol ditemukan di Jerman oleh seorang kimiawan bernama Emil Fischer dan Sachen serta di Perancis oleh Betrand. Tetapi Xylitol baru dinyatakan aman untuk penggunaan pemanis produk pangan pada tahun 1983. Xylitol adalah gula alkohol jenis pentitol dengan rumus umum C5H12O3.
- Baca juga : Gula aren cair berkualitas
Sifat-sifat kimia dan fisika lain dari xylitol antara lain berbentuk serbuk, berwarna putih, dan tidak berbau. Tingkat kemanisan 1,2-0,8 kali dari sukrosa bergantung pada pH larutan, tetapi lebih manis dari sorbitol dan manitol. Kelarutan dalam air pada 20 derajat Celsius adalah 64,2 g/100 ml. Sedikit larut dalam alkohol, pH larutan antara 5-7, dan nilai kalori rendah.
Baca juga : Rolade Bayam, Alternatif Untuk Anak-Anak yang Tak Suka Sayur
Buah-buahan dan sayuran seperti stroberi, wortel, bayam, selada, dan bunga kol secara alami mengandung xylitol dalam jumlah kecil (BPJ – bagian per sejuta). Untuk memproduksi pemanis ini dalam skala besar, para produsen menerapkan proses kimiawi dan bioteknologi.
Proses kimiawi menggunakan metode hidrogenasi xylose bersama campuran larutan asam. Sementara itu, proses bioteknologi memanfaatkan reaksi enzimatik dengan bantuan mikroba jenis ragi (yeast) seperti Candida dan Saccharomyces.
Xylitol mempunyai sifat yang menguntungkan yaitu rasa yang menarik, aman bagi kesehatan gigi karena sifatnya yang tidak merusak gigi (non cariogenik). Juga membantu menurunkan pembentukan carries dan plaque pada gigi sehingga banyak digunakan untuk campuran pasta gigi. Tidak memerlukan insulin untuk mengatur metabolismenya, sehingga menguntungkan bagi penderita diabetes, mempunyai efek sensasi dingin yang menyenangkan, tahan panas dan tidak mengalami karamelisa.
- Baca juga : Gula Aren Aman Dikonsumsi Penderita Diabetes
Hingga saat ini xylitol digunakan pada sekitar 35 negara dengan jumlah kebutuhan pada tahun 2001 mencapai 40.000 ton. Nilainya sekitar 28 juta dollar AS (sekitar Rp 252,6 milyar). Indonesia sekarang ini masih mengimpor xylitol untuk keperluan beberapa industri dari negara Amerika Serikat (AS), negara-negara di Eropa, Cina, India, dan Jepang.
2. Gula Dari Pati-Patian – Termasuk Gula Aren
Gula dari pati-patian (starch sweetener) adalah pemanis non tebu seperti halnya gula kelapa, gula aren dan gula bit. Contoh pemanis ini adalah high fructose syrup (HFS), fruktosa, glukosa, dan inulin. HFS diproses dari pati jagung, gandum, beras, kentang dan umbi-umbian lainnya melalui proses ekstraksi enzimatik dan mikrobial.
Kandungan utama HFS adalah glukosa dan fruktosa, dengan kadar fruktosa antara 42 persen -55 persen. Berdasarkan kandungan fruktosanya, saat ini dikenal dua jenis HFS yaitu HFS-42 dan HFS-55. Inulin adalah jenis HFS lain yang merupakan hasil ekstrak dari akar chicory dan Jerusalem artichokes. Pemanis ini mengandung 85 persen fruktosa dan 15 persen glukosa.
HFS yang berbentuk cair sangat menguntungkan untuk penggunaan industri minuman. Tetapi sekarang HFS juga banyak digunakan di industri beralkohol, makanan hewan, permen, soft drink, makanan dan farmasi.
- Baca juga : Penemu Kopi di Dunia
3. Sukralosa (Scuralose)
Sukralosa dihasilkan dari proses klorinasi sukrosa. Pemanis ini mempunyai tingkat relatif kemanisan yang sangat tinggi terhadap sukrosa yaitu 550-750 kalinya. Keuntungan lain pemanis ini adalah sifatnya yang tidak menyebabkan karies dan tidak merusak gigi, sehingga cocok untuk digunakan dalam industri kembang gula.
Sukralosa juga bersifat non-nutritif, dicirikan dari rendahnya kalori yang dihasilkan yaitu sekitar 2 kalori per satu sendok teh, sehingga dapat digunakan untuk penderita diabetes dan program penurunan berat badan.
4. Palatinosa
Palatinosa merupakan turunan sukrosa sebagai hasil proses enzimatis. Enzim yang digunakan adalah x-glukosil transferase dari Protanimobacler rubrum. Palatinosa mempunyai kemanisan lebih rendah yaitu 0,42 kalinya sukrosa, tetapi mempunyai keuntungan dengan sifat yang tidak merusak gigi dan kandungan kalori 4 kkal/gram.
5. Palatinit
Pemanis ini merupakan campuran dari 6-O-(x-D-glukopiranosil)-D-manitol dan 6-O-x-D-glukopiranosil)-D-sorbitol dan diproduksi melalui tiga tahap yaitu hidrogenasi palatinosa, pemurnian, dan rekristalisasi. Pemanis ini sangat cocok untuk penderita diabetes.
6. Leukrosa
Pemanis leukrosa merupakan hasil sintetis dari campuran sukrosa dan fruktosa sebanyak 2 persen serta menggunakan enzim dextranase dari Leuconostoc mesenteroides dan dikembangkan oleh Pfeifer dan Langen (Jerman).
Masih banyak sebenarnya pilihan bahan pemanis alternatif pengganti gula pasir yang aman dan bergizi yang dapat digunakan produsen untuk substitusi bahan pemanis sintetis di industri makanan dan minuman. Tetapi bagaimanapun penggunaan ini harus didasari oleh niat baik produsen untuk menghasilkan produknya yang bergizi serta sehat dan tidak hanya menitikberatkan pada besarnya keuntungan semata.
Keberhasilan ini tentunya harus ditunjang peran aktif pihak pengawas, yaitu Badan POM dan Depkes di dalam implementasi fungsi pengawasan peredaran makanan dan minuman yang sehat, terutama dalam merekomendasikan jenis pemanis yang aman.
Eriawan Rismana dan Imam Paryanto, Peneliti di Pusat P-2 Teknologi Farmasi dan Medika-BPPT Jakarta
Mengenai Pemanis Non-Nutritif
Pemanis non-nutritif, yang dikenal karena memberikan rasa manis tanpa menambah kalori atau hanya sedikit, berasal dari dua dunia yang sangat berbeda: dunia alam dan laboratorium sains.
Dari dunia alam, ada pemanis seperti Stevia, yang merupakan ekstrak murni dari daun tanaman Stevia rebaudiana, sebuah tumbuhan yang tumbuh di Amerika Selatan. Sementara itu, sebagian besar pemanis non-nutritif yang populer, seperti Aspartam, Sakarin, dan Sukralosa, adalah hasil dari proses kimiawi (sintesis) di laboratorium.
Pemanis buatan ini tidak ditemukan dalam bentuk aslinya di alam, melainkan diciptakan dengan memodifikasi atau menggabungkan senyawa kimia tertentu, seperti menggabungkan asam amino untuk menghasilkan Aspartam atau memodifikasi molekul gula untuk menghasilkan Sukralosa, menjadikannya pemanis super yang jauh lebih kuat daripada gula biasa.
Dikutip dari Kompas/danu kusworo
Baca juga:
Share artikel ini
Artikel Terbaru

Kilau Karamel Arenga dalam Sate Sapi Manis: Rahasia Kelezatan yang Menggoda Lidah

Rekomendasi Kue Cokelat Kelapa Parut Karamel, Simfoni Legit yang Bikin Lidah Berdansa

Kue Mangkok Klasik Gula Aren: Rahasia Tradisi Legit yang Mekar Sempurna

Manisnya Cokelat Cornflakes Gula Aren, Mari Nikmati Camilan Sehat yang Mewah

Cara Agar UMKM Bisa Bernafas Panjang- Menangkal Efek Perang Global dan Meraih Manisnya Laba
Artikel Terpopuler

Rahasia Aroma Pemikat Pelanggan: Mengapa Gula Aren Cair Pandan Adalah Aset Bisnis Sobat Arenga

Resep Teh Bunga-Bungaan: Manfaat Ilmiah dari Lemon Verbena hingga Rosemary
Arenga Indonesia di Kalimantan Selatan, Laris Manis di Kalsel Expo Hingga Masuk Radio

Jejak Emas Pohon Aren: Dari Prasasti Kuno Hingga Pajak Kerajaan yang Terlupakan

ARENGA Gula Aren Cair Pandan dan Susu Almond

Tumis Udang Arenga Gula Aren Cair

Gula Aren Arenga Sebagai Bumbu Masak
Mie Tiau Apollo dan Mie Tiaw Polo, Bersaing atau Saling Mendukung?



