Mengenal Kentang Lebih Dekat: Sejarah, Nutrisi, dan Cara Memilihnya

Halo Sobat Arenga! Pasti sudah biasa mengolah kentang untuk berbagai hidangan keluarga, bukan? Memang jenis sayuran umbi dengan kandungan zat tepung ini enak banget dan fleksibel diolah menjadi hidangan apa saja.
Anak milenial mana yang tak kenal kentang goreng? Belum lagi kehadirannya yang selalu pas di dalam perkedel, semur, kentang balado teri, hingga pelengkap rendang. Umbi kentang yang pernah menjadi salah satu makanan pokok penting di Eropa ini sekarang dikenal di seluruh dunia. Walaupun awalnya didatangkan dari Amerika Selatan, kentang kini ditanam di hampir seluruh belahan bumi.
Sebenarnya, umbi kentang tidak lebih dari pembengkakan pada bagian bawah tanaman (akar/batang) yang berfungsi menyimpan cadangan makanan. Namun, umbi ini sangat bersahabat dengan banyak sekali menu masakan Indonesia, mulai dari makanan kecil, kue, hingga lauk pauk.
Sebelum mengenal kentang lebih dekat lagi, kita tengok dulu sejarahnya, yuk!
Sejarah Kentang Sampai Masuk ke Indonesia
Menurut catatan sejarah, kentang (Solanum tuberosum) berasal dari Amerika Selatan, tepatnya dari kawasan Pegunungan Andes. Suku-suku asli di wilayah seperti Peru dan Bolivia telah mengembangkan dan membudidayakan tanaman ini sejak ribuan tahun yang lalu. Umbi bernutrisi ini bahkan menjadi makanan pokok bagi bangsa Inka.
Catatan sejarah Eropa pertama kali menyebut eksistensi kentang pada abad ke-16. Seorang biarawan Spanyol membawa tanaman ini sepulang dari perjalanannya ke Peru. Seiring masifnya era penjelajahan dan kolonisasi, bangsa Eropa memperkenalkan kentang ke benua mereka, yang kemudian menyebar luas ke seluruh dunia.
Saat ini, kentang menempati posisi sebagai salah satu tanaman pangan penting dan sangat populer di banyak negara. Hal ini terjadi karena kentang memiliki ketersediaan yang melimpah, menyimpan kandungan gizi yang tinggi, serta mampu tumbuh subur di berbagai kondisi iklim dan tanah.
Tanaman kentang lalu di Eropa ini lalu diberikan kepada Sir Walter Raleigh. Seorang berkebangsaan Irlandia yang kemudian menanamnya sebagai tanaman langka di kebunnya.
Ada juga yang mengatakan bahwa seorang botanikus, Harriott, lah yang memberikannya kepada Sir Walter Raleigh. Tetapi yang pasti, negara pertama yang membudidayakannya di luar negara asalnya, Peru, adalah Spanyol. Dari sini baru menyebar ke seluruh Benua Eropa.
Sebagai halnya produk baru, cukup lama juga masyarakat Eropa menerima umbi bermata ini sebagai bahan makanan potensial. Penyebabnya adalah bentuk dan warnanya dianggap kurang menarik. Malah suatu ketika kentang pernah dianggap sebagai umbi aneh pembawa petaka.
Ketika Eropa mengalami gagal panen gandum, wabah kelaparan melanda, baru pada abad ke-19 kentang mulai dilirik. Sisanya adalah sejarah. Awalnya diremehkan lama-lama diterima. Kentang pun jadi makanan pokok. Yang sangat mengungutungkan darinya adalah mudah dibudidayakan, harganya pun murah.
Sementara di Indonesia sendiri kentang masuk catatan sejarah sekitar tahun 1750. Dibawa Belanda dan ditanam di daerah pegunungan.
Daerah Asal Kentang di Indonesia
Di Indonesia, kentang merupakan salah satu bahan makanan sangat populer. Selain kentang goreng, banyak sekali resep yang menggunakan umbi legit ini. Baik sebagai bahan utama maupun tambahan. Salah satunya adalah puding kentang dengan gula aren asli.
Secara klasifikasi botani, kentang merupakan salah satu jenis bahan pangan yang berupa umbi batang. Seperti sudah ditulis di atas, tanaman kentang sendiri bukanlah spesies asli Indonesia, tapi banyak ditanam di dataran tinggi kita.
Jadi kentang di Indonesia bisa berasal dari berbagai daerah dengan iklim dan kondisi tanah yang cocok. Seperti di dataran tinggi Dieng, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.
Beruntungnya, dengan teknologi dan praktik bercocok tanam yang semakin maju, kentang juga dapat ditanam di daerah lain di Indonesia selain daerah-daerah yang telah disebutkan tadi. Syaratnya asalah tumbuh di daerah dengan ketinggian yang cukup tinggi dan iklim yang sejuk.
- Baca juga tentang: Cara membuat gula aren
Nutrisi Dalam Kentang

Banyak yang dapat dibuat dari kentang. Beragam olahan yang tidak pernah membosankan. Selain mengandung banyak vitamin, sedikit kalori, kentang tidak mengandung banyak lemak.
Sebagai sumber karbohidrat, kentang merupakan salah satu jenis bahan pangan yang berupa umbi-umbian padat gizi. Hidrat arang di dalamnya adalah sumber energi terpenting bagi tubuh.
Hidrat arang adalah sumber energi terpenting bagi tubuh. Hidrat arang di dalam kentang merupakan bentuk hidrat arang kompleks dan oleh karena itu penting bagi susunan diet. Kurang lebih 50% dari masakan dari pasokan energi untuk kebutuhan tubuh setiap hari datang dari hidrat arang.
Umbi kentang terdiri dari 70-80% kadar air, 14-18% hidrat arang, 2% protein, 1% mineral dan 0,1% lemak.
Selain itu juga kentang mengandung vitamin B vitamin C, kalsium, potasium, besi, dan iodin. Boleh dikatakan bahwa kandungan gizi kentang sempurna.
Umbi dengan berat rata-rata 100 gram menghasilkan 86 kalori = 40 gram roti. Kandungan vitamin c-nya yang tinggi pada kentang segar dapat menjadi alternatif sumber vitamin c untuk mereka yang tidak banyak mengkonsumsi buah-buahan dan sayuran. Jika disimpan terlalu lama, kandungan vitamin c-nya akan banyak berkurang.
Mengenal Kentang Lebih Dekat. Mutu Berdasarkan Ukurannya
Di pasar swalayan atau pasar tradisional banyak dijumpai beraneka ukuran kentang. Ada yang besar sedang dan bahkan yang kecil sebesar kelereng. Ukuran besar kecilnya kentang di kalangan petani atau pedagang dikategorikan dengan mutu A B C:
1.. Kentang mutu A, beratnya sekitar 200-250 gram
2. Kentang mutu B, beratnya sekitar 125-175 gram.
3. Kentang mutu C, beratnya sekitar 100 gram
4.Kentang Siomay, beratnya sekitar 50-75 gram.
5. Kentang Rendang, bentuknya sebesar kelereng atau bakso disebut dengan kentang rendang.
Kenal Lebih Jauh – Cara Memilih Kentang

Pilihlah selalu kentang yang bertekstur keras, permukaannya rata dan dengan warna kulit serupa. Jangan menyimpan kentang di tempat yang terkena sinar matahari agar lebih awet dan tidak terkontaminasi bakteri yang membuatnya menjadi lunak.
Saat kamu mengupas kentang, enzim polifenol oksidase di dalam umbi langsung berinteraksi dengan oksigen di udara. Interaksi ini memicu perubahan warna permukaan kentang menjadi kecokelatan. Ilmuwan pangan menyebut reaksi ini sebagai enzymatic browning.
Untuk mencegah perubahan warna tersebut, kamu bisa merendam kentang yang baru saja dikupas ke dalam air bersih atau larutan garam.
Selalu gunakan pisau anti karat (stainless steel) saat mengupas atau memotong kentang. Hindari penggunaan pisau berbahan besi, karena pigmen tanin pada kentang akan bereaksi dengan logam besi dan menghasilkan warna kecokelatan.
Sering kali, kita mendapati tekstur kentang hasil penggorengan menjadi lunak atau lembek. Untuk menghindari masalah ini, kita bisa menambahkan sedikit larutan air kapur sirih sewaktu mencuci atau merendam kentang.
Kapur sirih akan bereaksi dengan senyawa pektin di dalam kentang dan membentuk kalsium pektat. Senyawa baru ini berfungsi mengunci tekstur, sehingga menghasilkan kentang goreng yang jauh lebih garing.
Sedang mencari pemanis alami yang lebih aman untuk olahan kentang? Beralihlah ke gula aren organik dari Arenga Indonesia. Diproses 100% murni dari nira pohon aren pilihan tanpa campuran bahan kimia atau pengawet, menjadikannya pilihan pemanis harian yang tidak hanya legit, tapi juga lebih bernutrisi.
FAQ Tentang Kentang
Sering kali kita hanya menikmatinya tanpa tahu klasifikasinya. Jika ditelaah lebih jauh, kentang merupakan salah satu jenis bahan pangan yang berupa umbi batang. Bagian membengkak pada ujung akar inilah yang menyimpan cadangan makanan dan karbohidrat yang mengenyangkan perut kita.
Arenga Indonesia. Pabrik gula aren di Tangerang – Banten
Baca Juga:
Share artikel ini
Artikel Terbaru

Resep Dessert Sehat: Greek Yogurt Beri Segar Penggugah Selera

Resep Smoothie Strawberry Rosela, Tegukan Puisi Tropis Pengusir Haus dan Penjaga Awet Muda

Mana yang Lebih Bagus untuk Baking: Gula Aren Cair Organik atau Versi Bubuk?

Resep Jagung Bose Timor: Alternatif Sarapan Pengganti Bubur Ayam

Kenalan Dengan Musang Sang Pahlawan Kopi Luwak dan Pohon Aren, Kisah Barista Alam Penjaga Hutan
Artikel Terpopuler

Rahasia Aroma Pemikat Pelanggan: Mengapa Gula Aren Cair Pandan Adalah Aset Bisnis Sobat Arenga

Resep Teh Bunga-Bungaan: Manfaat Ilmiah dari Lemon Verbena hingga Rosemary
Arenga Indonesia di Kalimantan Selatan, Laris Manis di Kalsel Expo Hingga Masuk Radio

Jejak Emas Pohon Aren: Dari Prasasti Kuno Hingga Pajak Kerajaan yang Terlupakan

ARENGA Gula Aren Cair Pandan dan Susu Almond

Tumis Udang Arenga Gula Aren Cair

Gula Aren Arenga Sebagai Bumbu Masak
Mie Tiau Apollo dan Mie Tiaw Polo, Bersaing atau Saling Mendukung?


