Pohon Siwalan Lontar dan Geliat Budaya Masyarakat

Categories: Referensi Arenga Palm Sugar|Komentar Dinonaktifkan pada Pohon Siwalan Lontar dan Geliat Budaya Masyarakat|
Pohon siwalan lontar dan geliat budaya masyarakat di dalamnya

BEGITU menyebut Rote Ndao, yang terbayang adalah pohon lontar (Borassus flabelliber) dan geliat warganya mendayagunakan habis seluruh potensi ekonomis pohon itu, dari akar hingga pucuknya. Warga Rote Ndao merupakan basis masyarakat yang berbudaya pohon siwalan lontar ini.

Nyaris tidak ada bagian dari lontar yang tidak digunakan. Seni musik masyarakat di daerah ini, misalnya, juga diekspresikan lewat lontar. Bagian yang memberi ruang resonansi pada sasando (alat musik petik tradisional Nusa Tenggara Timur asal Rote Ndao) terbuat dari daun lontar.

Berbagai Manfaat Pohon Siwalan Lontar Dalam Masyarakat Rote Ndao


Sejak berabad-abad silam, lontar pun telah menjadi semacam “pohon kehidupan” yang memberi napas hidup pada masyarakat Rote Ndao. Selain sumber pangan, sarana bantu kesehatan, dan stationery, lontar adalah sumber uang.

Misalnya, tandan bunga lontar selain bisa digunakan untuk obat pegal linu, lebih sering disadap untuk diambil niranya, yang merupakan hasil utama dan berguna untuk pembuatan gula serta minuman beralkohol. Buah muda terkadang juga dapat dimakan.

Sabut buah lontar biasanya digunakan sebagai pewangi dalam pembuatan kue, tetapi sedikit sekali warga yang melihat peluang ini. Batang dan daunnya biasa digunakan sebagai bahan utama bangunan rumah dan itu merupakan kebiasaan turun-temurun.

Ketika pada zaman modern orang menggunakan lem sintetis, penduduk Rote Ndao sudah sejak dahulu kala menggunakan getah lontar sebagai perekat. Daun lontar, selain untuk atap rumah, juga digunakan sebagai bahan baku produk utama anyaman dan kipas.

Gula Merah Siwalan

Gula merah siwalan bentuk lempeng sehingga sering disebut sebagai gula merah lempeng
Gula merah siwalan bentuk lempeng sehingga sering disebut sebagai gula merah lempeng

Meskipun demikian, di antara banyak produk olahan pohon lontar atau siwalan ini, hanya ada satu hal yang tidak pernah bergeser, yakni nira dan produk turunannya berupa gula cair (penduduk lokal menyebutnya gula air) dan gula padat (gula batu/lempeng). Berbeda dengan gula aren, gula lontar umumnya disebut gula merah siwalan.


Ketika perekat digantikan oleh lem sintetis, bahan bangunan beralih ke seng dan semen, obat pegal linu dan pewangi digeser oleh produk industri, nira dan gula merawah siwalan tetap menjadi primadona. Nira dan gula menerobos hingga kota kabupaten dan provinsi.

Penopang Kehidupan

HINGGA kini kehidupan masyarakat Rote Ndao masih sangat bergantung pada kemurahan alam pohon siwalan lontar.

Setiap musim paceklik tiba, hampir bersamaan dengan datangnya kemarau pada April-November, nira/gula merah siwalan menjadi penopang hidup mereka.


Jika haus dan lapar, biasanya mereka meminum nira dan air gula (air yang diaduk dengan dua-tiga sendok makan gula cair atau gula semut). Air gula untuk menahan rasa lapar. Dengan pola sekali makan dalam sehari, bahan makanan yang diperoleh dari hasil menjual gula dan nira hanya dimakan malam hari atau siang hari.

Geliat Budaya Masyarakat Berbasis Lontar

Penduduk Rote Ndao, seperti juga di Sabu, lebih banyak minum dibandingkan dengan makan. Kebiasaan ini terjadi karena tanaman pangan dan ternak umumnya mati pada saat kemarau panjang. Kabupaten paling selatan di Indonesia, yang dekat dengan Australia, ini gersang dan tandus.

Tanaman pangan dan hortikultura yang diusahakan di sini biasanya jagung, padi ladang, umbi-umbian, dan kacang-kacangan. Ternak besar dan kecil berupa sapi, kuda, kambing, dan paling banyak domba. Rote sering dijuluki pulau domba.

Sedangkan tanaman pangan dan hortikultura yang tumbuh di musim hujan yang singkat (sekitar 3-4 bulan) biasanya dirobohkan oleh badai atau siklon tropis yang pasti datang setiap tahun. Selama musim hujan ini, badai sudah dua kali melanda NTT, termasuk Rote Ndao.


Itu sebabnya dalam berbagai literatur yang ditulis oleh cendekiawan Barat tentang penduduk Rote, Ndao, Sabu, dan masyarakat berbudaya lontar lainnya, mereka dikategorikan sebagai non-eating people. Kehidupan masyarakatnya amat sederhana.

Sejak gong persiapan sebagai daerah otonom atau kabupaten definitif ditalukan lebih kencang pada tahun 2001, hingga akhirnya dikukuhkan pada tahun 2002, rentang kendali wilayah semakin pendek. Penduduk miskin mulai lebih cepat diperhatikan.


Geliat ekonomi masyarakat baru mulai terasa bersamaan dengan pembukaan isolasi wilayah yang saat ini sedang dikerjakan di poros utama yang menghubungkan Pantai Baru, Baa, Batutua, dan Fapela (80,2 kilometer). Pantai Baru menjadi pintu masuk jalur laut, yang biasa didatangi feri dua kali sehari dari Kupang.

Markus DM Welkis dan Jonny Y Amalo, dua pejabat di lingkungan Pemerintah Kabupaten Rote Ndao, mengatakan, pembukaan isolasi wilayah ini sangat penting bagi kemajuan wilayahnya. Sebab, sarana transportasi darat di sini masih serba terbatas.

Welkis, yang menjabat Sekretaris Kabupaten Rote Ndao, menjelaskan, sebagai sebuah kabupaten baru, Rote Ndao sedang memfokuskan perhatian pada sektor kelautan dan perikanan untuk memberi ruang pada budidaya rumput laut dan budidaya ikan. Juga tidak ketinggalan peternakan, pertanian, kehutanan, dan pariwisata.

Rote Ndao Sebagai Destinasi Wisata

Selain pohon siwalan lontar, panorama alam Rote Ndao sangat eksostis. Tentu saja ini adalah modal untuk menaikan taraf ekonomi lewat pariwista.


Itulah sektor-sektor unggulan yang akan menguras anggaran daerah di pos pembangunan fisik. Jika direncanakan dengan baik, sektor kelautan dan perikanan serta pariwisata memiliki peluang sangat menjanjikan di sini dibandingkan sektor lain.

Nembrala, Bo’a, Deseli, dan Fapela adalah obyek-obyek wisata andalan di sini, bahkan di NTT. Nembrala, misalnya, memiliki garis pantai sekitar lima kilometer yang bebas polusi dan berpasir putih. Gelombang lautnya terbaik di kelas dunia untuk berselancar.


Hanya karena isolasi wilayah dan miskin promosi, potensi itu jarang dikenal. Masih sedikit pula petani dan nelayan yang membudidayakan rumput laut. Nelayannya pun masih tradisional. Warga masih tetap hidup dari pohon lontar. (Kompas – Pascal SB Saju)

Gula Aren Supplai Industri dan Komersil Skala Tonase Klik

Baca juga:

Share artikel ini

Artikel Terbaru

  • Banyak alasan mengapa kita harus bangga pada produk lokal indonesia

    Mengapa Harus Bangga Pada Produk Lokal Indonesia? Warisan Kita

  • Temu giring untuk kecantikan. Sebagai obat awet muda, memuluskan kulit, sampai jadi obat pelangsing

    Temu Giring Untuk Kecantikan: Bikin Kulit Glowing dan Tubuh Langsing

  • Mengenal kopi yellow caturra

    Perkenalan Dengan Kopi Yellow Caturra, Enak dan Langka

  • Cara-terbaik-menikmati-alpukat-gula-merah

    Alpukat Kocok Gula Aren, Lebih Nikmat Bonus Manfaat

  • Foto kenangan perjalanan promosi arenga yang salah satunya bersama ibu Yasmin Gita Wirjawan

    Foto Kenangan Perjalanan Promosi, Sekelumit Momen ke Masa Lalu

Arenga Customer Care

Untuk pertanyaan, kritik, dan saran seputar produk Arenga, silakan hubungi kami di nomor WhatsApp berikut ini:

0819 3241 8190

Chat

Artikel Terpopuler

  • 10 Hal Terbaik Tentang Palm Sugar

    10 Fakta Tentang Palm Sugar

  • Resep Es Kopi Susu Gula Aren ala Arenga

  • agar-agar santan gula aren

    Agar-Agar Santan Gula Aren

  • Cerita elok dari kampung

    Cerita Elok Dari Kampung Aren

  • Cara menikmati sayuran hijau mentah

    Cara Menikmati Sayuran Hijau Mentah, Resep Pina Colada Smoothie

  • Resep iga bakar gula aren Arenga

    Resep Iga Bakar Gula Aren Arenga

  • Beda gula aren dan gula semut

    Beda Gula Aren dan Gula Semut

  • Resep Soto Padang Nikmat

    Resep Soto Padang Nikmat

Artikel Terkait