Perjalanan Panjang Gula Aren – Bila diproses mengikuti standar organik atau kesehatan gula aren adalah pemanis yang sangat sehat. Bisa diaplikasikan untuk makanan apapun. Dari memasak sehari-hari sampai ke industri makanan dan minuman yang beragam jenisnya. Itu lah mengapa tidak sulit menemukan gula aren di pasar. Entah di pasar tradisional. moderen sampai online. Tapi tahukah Anda perjalanan panjang gula aren dari hutan sampai ke dapur anda?

Perjalanan Panjang Gula Aren Dari Hutan Sampai ke Dapur Anda

Meninggur

Perjalanan Panjang Gula Aren Dimulai dari Membibit

Perajin gula aren membutuhkan waktu kurang lebih 15 tahun sejak bibit ditanam sampai siap disadap niranya. Calon pemanis akan muncul  lewat tandan bunga yang muncul di ketiak daun. Dari tangkai bunga itulah getah bening (nira) akan mengucur yang nanti akan ditampung wadah. Tapi sebelum itu terjadi ada ritual awal yang harus di lalui. Proses memulai penyadapan ini dalam bahasa Sunda disebut meninggur.

Baca juga :

  1. Gula Aren Arenga Sebagai Bumbu Masak
  2. Beda Gula Aren dan Gula Semut
  3. 4 Resep Minuman Tradisional Menggunakan Gula Aren

Meninggur – Proses Awal Membuat Gula Aren

Meninggur  sendiri adalah kegiatan menepuk-nepuk tandan bunga dengan alat khusus. Biasanya berbentu martil tapi terbuat dari kayu. Setelah itu tandan bunga jantan yang sarat buah itu akan digoyang-goyang. Proses meninggur ini  membutuhkan waktu 1-2 bulan lebih. Tujuannya adalah agar saluran kapiler pada batang tandan menjadi pecah dan aliran nira lebih mudah lewat menuju penampungan.

Tandan bunga siap diiris setelah tangkai lemas. Ditandai pula dengan keluarnya aroma wangi di sekitar batang. Dan disinilah proses menderas pun dimulai.

Menderas sendiri adalah kegiatan mengiris tangkai bunga agar cairan yang keluar ditampung dalam wadah bambu yang disediakan.

Proses menderas Nira Untuk Membuat Gula Aren

Tangga untuk menyadap nira aren

Pohon aren dan tangga bambu yang akan digunakan untuk menyadap

Menderas disebut juga menyadap. Artinya perajin akan naik-turun tangga bambu dua kali sehari. Yang disebut tangga itu adalah sebatang bambu yang dilubangi tepat di atas bukunya. Lubang tersebut sebagai injakan. Lebarnya hanya cukup untuk sepertiga telapak kaki.

Proses menyadap membutuhkan keahlian khusus. Tidak hanya keterampilan membawa lodong kosong saat naik,  turun dengan lodong penuh yang sudah berisi nira. Melainkan  proses naik dan turun sendiri merupakan perjuangan alot. Karena menapak di ruas bambu berlubang yang hanya  cukup untuk ujung-ujung  jari butuh perjuangan.

Menopang kan berat badan dengan ujung jaari kaki,  belum lagi lubang bambu yang pastinya terasa tajam. Saya yang melihatnya merasakan sendiri bahwa proses membuat gula aren ini tidak lah semanis rasanya. Sungguh sebuah proses yang panjang membuat gula aren itu sampai ke dapur Anda.

Practice is the mother of all skill kata orang. Saya lihat Bapak perajin yang sudah bertahun-tahun melakukan ini tidak mengalami halangan saat mereka mendaki atau turun dari tangga bambu tersebut.

Sampai dibawah nira harus langsung dimasukkan kedalam kenceng dan dipanaskan di atas tungku. Tentu saja untuk mencegah agar tidak cepat rusak. Bila dirasa belum cukup,  nira yang dipanen pagi atau sore setelah mendidih akan dibiarkan . Keesokan pagi atau sore proses kembali diulang dan nira baru dimasukkan ke dalam untuk diteruskan pengolahannya.

Jadi memang panjang sekali perjalanan gula aren itu hingga sampai ke rumah Anda, bukan?

Kontak Arenga Indonesia https://wa.me/6281932418190